Sunday, May 31, 2020

Kebahasaan Proposal

Kebahasaan Proposal

 

A.    Huruf Kapital

 

1.    Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama awal kalimat.

Misalnya:

Apa maksudnya?

Dia membaca buku.

Kita harus bekerja keras.

Pekerjaan itu akan selesai dalam satu jam.

 

2.    Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama orang, termasuk julukan.

Misalnya:

Amir Hamzah

Dewi Sartika

Halim Perdanakusumah

Wage Rudolf Supratman

Jenderal Kancil

Dewa Pedang

Alessandro Volta

André-Marie Ampère

Mujair

Rudolf Diesel

Catatan:

(1)   Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf perta­ma nama orang yang

merupakan nama jenis atau satuan ukuran.

Misalnya:

ikan mujair

mesin diesel

5 ampere

10 volt

(2)   Huruf kapital tidak dipakai untuk menuliskan huruf pertama kata yang

bermakna ‘anak dari’, seperti bin, binti, boru, dan van, atau huruf pertama kata tugas.

Misalnya:

Abdul Rahman bin Zaini

Siti Fatimah binti Salim

Indani boru Sitanggang

Charles Adriaan van Ophuijsen

Ayam Jantan dari Timur

Mutiara dari Selatan

 

3.    Huruf kapital dipakai pada awal kalimat dalam petikan langsung.

Misalnya:

Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”

Orang itu menasihati anaknya, “Berhati-hatilah, Nak!”

Mereka berhasil meraih medali emas,” katanya.

Besok pagi,” kata dia, “mereka akan berangkat.”

 

4.    Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata nama agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk sebutan dan kata ganti untuk Tuhan.

 

Misalnya:

Islam Alquran

Hindu Weda

Allah

Tuhan

Allah akan menunjukkan jalan kepada hamba-Nya.

Ya, Tuhan, bimbinglah hamba-Mu ke jalan yang Engkau beri rahmat.

 

5.    a.   Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan,

keturunan, keagamaan, atau akade­mik yang diikuti nama orang, termasuk

gelar akademik yang mengikuti nama orang.

Misalnya:

Sultan Hasanuddin

Mahaputra Yamin

Haji Agus Salim

Imam Hambali

Nabi Ibrahim

Raden Ajeng Kartini

Doktor Mohammad Hatta

Agung Permana, Sarjana Hukum

Irwansyah, Magister Humaniora

 

      b.   Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan,

keturunan, keagamaan, profesi, serta nama jabatan dan kepangkatan yang

dipakai sebagai sa­paan.

Misalnya:

Selamat datang, Yang Mulia.

Semoga berbahagia, Sultan.

Terima kasih, Kiai.

Selamat pagi, Dokter.

Silakan duduk, Prof.

Mohon izin, Jenderal.

 

6.    Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama ins-tansi, atau nama tempat.

 

Misalnya:

Wakil Presiden Adam Malik

Perdana Menteri Nehru

Profesor Supomo

Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara

Proklamator Republik Indonesia (Soekarno-Hatta)

Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebu­dayaan

Gubernur Papua Barat

 

7.    Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.

 

Misalnya:

bangsa Indonesia

suku Dani

bahasa Bali

Catatan:

Nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan tidak ditulis dengan huruf awal kapital.

Misalnya:

pengindonesiaan kata asing

keinggris-inggrisan

kejawa-jawaan

 

8.    a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama ta­hun, bulan, hari, dan

 hari besar atau hari raya.

 

Misalnya:

tahun Hijriah tarikh Masehi

bulan Agustus bulan Maulid

hari Jumat hari Galungan

hari Lebaran hari Natal

 

 b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama peristiwa sejarah.

 

Misalnya:

Konferensi Asia Afrika

Perang Dunia II

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Catatan:

Huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama tidak ditulis dengan huruf kapital.

 

Misalnya:

Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.

 

9.    Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.

 

Misalnya:

Jakarta Asia Tenggara

Pulau Miangas Amerika Serikat

Bukit Barisan Jawa Barat

Dataran Tinggi Dieng Danau Toba

Jalan Sulawesi Gunung Semeru

Ngarai Sianok Jazirah Arab

Selat Lombok Lembah Baliem

Sungai Musi Pegunungan Himalaya

Teluk Benggala Tanjung Harapan

Terusan Suez Kecamatan Cicadas

Gang Kelinci Kelurahan Rawamangun

Catatan:

(1)   Huruf pertama nama geografi yang bukan nama diri ti­dak ditulis

dengan huruf kapital.

 

Misalnya:

berlayar ke teluk mandi di sungai

menyeberangi selat berenang di danau

(2)   Huruf pertama nama diri geografi yang dipakai sebagai nama jenis

tidak ditulis dengan huruf kapital.

 

Misalnya:

jeruk bali (Citrus maxima)

kacang bogor (Voandzeia subterranea)

nangka belanda (Anona muricata)

petai cina (Leucaena glauca)

 

Nama yang disertai nama geografi dan merupakan nama jenis dapat dikontraskan atau disejajarkan dengan nama jenis lain dalam kelompoknya.

 

Misalnya:

Kita mengenal berbagai macam gula, seperti gula jawa, gula pasir, gula tebu, gula aren, dan gula anggur.

Kunci inggris, kunci tolak, dan kunci ring mempu­nyai fungsi yang berbeda.

Contoh berikut bukan nama jenis.

Dia mengoleksi batik Cirebon, batik Pekalongan, ba­tik Solo, batik Yogyakarta, dan batik Madura.

Selain film Hongkong, juga akan diputar film India, film Korea, dan film Jepang.

Murid-murid sekolah dasar itu menampilkan tari­an Sumatra Selatan, tarian Kalimantan Timur, dan tarian Sulawesi Selatan.

 

10.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur bentuk ulang sempurna) dalam nama negara, lembaga, badan, organisasi, atau dokumen, kecuali kata tugas, seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk.

 

Misalnya:

Republik Indonesia

Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia

Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2010 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Pida­to Presiden dan/atau Wakil Presiden serta Pejabat Lain­nya

Perserikatan Bangsa-Bangsa

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

 

11.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata (termasuk unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, karangan, artikel, dan makalah serta nama majalah dan surat kabar, kecuali kata tugas, seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk, yang tidak terletak pada posisi awal.

 

Misalnya:

Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.

Tulisan itu dimuat dalam majalah Bahasa dan Sastra.

Dia agen surat kabar Sinar Pembangunan.

Ia menyajikan makalah “Penerapan Asas-Asas Hukum Perdata”.

 

12.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singka­tan nama gelar, pangkat, atau sapaan.

 

Misalnya:

S.H. sarjana hukum

S.K.M. sarjana kesehatan masyarakat

S.S. sarjana sastra

M.A. master of arts

M.Hum. magister humaniora

M.Si. magister sains

K.H. kiai haji

Hj. hajah

Mgr. monseigneur

Pdt. pendeta

Dg. daeng

Dt. datuk

R.A. raden ayu

St. sutan

Tb. tubagus

Dr. doktor

Prof. profesor

Tn. tuan

Ny. nyonya

Sdr. Saudara

 

13.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penun­juk hubungan kekerabatan, seperti bapak, ibu, kakak, adik, dan paman, serta kata atau ungkapan lain yang dipakai da­lam penyapaan atau pengacuan.

 

 

Misalnya:

“Kapan Bapak berangkat?” tanya Hasan.

Dendi bertanya, “Itu apa, Bu?”

“Silakan duduk, Dik!” kata orang itu.

Surat Saudara telah kami terima dengan baik.

“Hai, Kutu Buku, sedang membaca apa?”

Bu, saya sudah melaporkan hal ini kepada Bapak.”

Catatan:

(1)   Istilah kekerabatan berikut bukan merupakan pe-nyapaan atau

pengacuan.

Misalnya:

Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.

Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.

(2) Kata ganti Anda ditulis dengan huruf awal kapital.

                               Misalnya:

Sudahkah Anda tahu?

Siapa nama Anda?

 

 

B.    Angka dan Bilangan

 

Angka Arab atau angka Romawi lazim dipakai sebagai lambang bilangan atau nomor.

Angka Arab        : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9

Angka Romawi   : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100), D (500), M

                              (1.000), _V(5.000), _M(1.000.000)

 

1.      Bilangan dalam teks yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf, kecuali jika dipakai se­cara berurutan seperti dalam perincian.

 

Misalnya:

Mereka menonton drama itu sampai tiga kali.

Koleksi perpustakaan itu lebih dari satu juta buku.

Di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan 5 orang abstain.

Kendaraan yang dipesan untuk angkutan umum terdiri atas 50 bus, 100 minibus, dan 250 sedan.

 

2.      a.  Bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf.

 

      Misalnya:

Lima puluh siswa teladan mendapat beasiswa dari pemerintah daerah.

Tiga pemenang sayembara itu diundang ke Jakarta.

Catatan:

Penulisan berikut dihindari.

50 siswa teladan mendapat beasiswa dari peme-rintah daerah.

3 pemenang sayembara itu diundang ke Jakarta.

b.  Apabila bilangan pada awal kalimat tidak dapat dinya­takan dengan satu atau dua

     kata, susunan kalimatnya diubah.

            Misalnya:

Panitia mengundang 250 orang peserta.

Di lemari itu tersimpan 25 naskah kuno.

 

Catatan:

Penulisan berikut dihindari.

250 orang peserta diundang panitia.

25 naskah kuno tersimpan di lemari itu.

 

3.      Angka yang menunjukkan bilangan besar dapat ditulis se­bagian dengan huruf supaya lebih mudah dibaca.

 

Misalnya:

Dia mendapatkan bantuan 250 juta rupiah untuk mengembangkan usahanya.

Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 550 miliar rupiah.

Proyek pemberdayaan ekonomi rakyat itu memerlukan biaya 10 triliun rupiah.

 

4.      Angka dipakai untuk menyatakan (a) ukuran panjang, be­rat, luas, isi, dan waktu serta (b) nilai uang.

 

Misalnya:

0,5 sentimeter

5 kilogram

4 hektare

10 liter

2 tahun 6 bulan 5 hari

1 jam 20 menit

Rp5.000,00

US$3,50

£5,10

¥100

 

5.      Angka dipakai untuk menomori alamat, seperti jalan, ru­mah, apartemen, atau kamar.

 

Misalnya:

Jalan Tanah Abang I No. 15 atau

Jalan Tanah Abang I/15

Jalan Wijaya No. 14

Hotel Mahameru, Kamar 169

Gedung Samudra, Lantai II, Ruang 201

 

6.      Angka dipakai untuk menomori bagian karangan atau ayat kitab suci.

 

Misalnya:

Bab X, Pasal 5, halaman 252

Surah Yasin: 9

Markus 16: 15—16

 

7.      Penulisan bilangan dengan huruf dilakukan sebagai beri­kut.

a.   Bilangan Utuh

Misalnya:

dua belas (12)

tiga puluh (30)

lima ribu (5.000)

 b.   Bilangan Pecahan

Misalnya:

setengah atau seperdua (½)

seperenam belas (16)

tiga perempat (¾)

dua persepuluh (²∕₁₀)

tiga dua-pertiga (3⅔)

satu persen (1%)

satu permil (1‰)

 

8.      Penulisan bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara berikut.

 

Misalnya:

abad XX

abad ke-20

abad kedua puluh

Perang Dunia II

Perang Dunia Ke-2

Perang Dunia Kedua

9.      Penulisan angka yang mendapat akhiran -an dilakukan dengan cara berikut.

 

Misalnya:

lima lembar uang 1.000-an (lima lembar uang seribuan)

tahun 1950-an (tahun seribu sembilan ra-

tus lima puluhan)

uang 5.000-an (uang lima ribuan)

 

10.  Penulisan bilangan dengan angka dan huruf sekaligus dilakukan dalam peraturan perundang-undangan, akta, dan kuitansi.

 

Misalnya:

Setiap orang yang menyebarkan atau mengedar-kan rupiah tiruan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2), dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan pidana denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

Telah diterima uang sebanyak Rp2.950.000,00 (dua juta sembilan ratus lima puluh ribu rupiah) untuk pembayaran satu unit televisi.

11.  Penulisan bilangan yang dilambangkan dengan angka dan diikuti huruf dilakukan seperti berikut.

 

Misalnya:

Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp900.500,50 (sembilan ratus ribu lima ratus rupiah lima puluh sen).

Bukti pembelian barang seharga Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) ke atas harus dilampirkan pada laporan per­tanggungjawaban.

 

12.  Bilangan yang digunakan sebagai unsur nama geografi ditulis dengan huruf.

 

Misalnya:

Kelapadua

Kotonanampek

Rajaampat

Simpanglima

Tigaraksa


No comments:

Post a Comment